Pelajaran dari dunia sampah

Seusai kuliah saya mampir sekaligus sholat jum’at di kecamatan Sedati,sebenarnya, setelah dari masjid rencananya mampir meniatkan diri ke Perpustakaan Sidoarjo. saat melewati alun-alun, entah kenapa alun-alun menyapa saya.. ah,dari pada tidak “sreg”akhirnya saya putuskan saja untuk ke alun-alun. Yah, meski tidak ada yang di kerjakan disana. hmm,awalnya saya agak bingung juga. tapi kebetulan ada lokasi yang pas dan strategis. di sebelah selatan alun-alun. tepatnya di bawah pohon. kalau noleh ke selatan,persis di gerbang kantor Bupati .

Sambil berteduh di bawah pohon,saya sempatkan pacaran dengan buku yang saya pinjem barusan di maktabah Mahad umar. karena di perpustakaan lain belum tentu ada ,jadi benar-benar lumayan langka.saat asyik baca buku di bawah pohon(hmm, bener-bener sejuk. suer deh ) saya melihat seorang perempuan berusia kira-kira 65 tahun ke atas. he..he..entahlah saya bisa menaksirkan demikian. tapi kalau antum lihat sendiri,mungkin juga sama.

dulusaat masih muda,saya pernah elihat muda-mudi yang berlari ke arah pengguna kendaraan bermotor sambil menodong dengan senjatanya(kaleng/plastik) tapialhamdulillah sekarang sudah jarang. yang membuat saya salut, nenek tua itu tidak pasrah dan membuka telapak tangan tapi tetap berusaha mencari barang yang sekiranya berguna. saya amati terus dan saya agak tersentuh juga. ternyata Allah memperlihatkan pelajaran di madrasah ini. saya juga kadang banyak di perlihatkan sesuatu yang membuat tersenyum kadang juga merinding.

Beberapa minggu yang lalu saya juga di perlihatkan pemandangan yang luar biasa .bunga-bunga yang memanfaatkan momentum. semangatnya membuat saya termotivasi. begitu berharganya sebuah momentum dan keikhlasan meski di tempat kurang terhormat. kebetulan kisah ini saya jadikan puisi saat belajar nulis puisi di FLP suroboyo yah entahlah ini disebut puisi atau tidak.soalnya sama sekali ndak puitiis hehehe

Lembaran penyambung Hidup

Ketika lembaran sudah tak di gunakan

Ketika Daging-daging di ceceli

Ketika usus-usus di cuci

Dan ketika Manusia berbondong kesana

Aku melihat tiga Bunga menuju sampah

Kupikir mereka mengincar daging itu

Merekapun duduk dan mamilah

di hiasi senyuman, lembaran koran itu menghidupi mereka

(Masjid Takhobhar-telkom ketintang 19 Des 2010)

Sekalipun hanya lembaran takberguna,mereka dengan ikhlas menyambut degan senyuman. yah,karena dengan lembaran itulah mereka bisa hidup dan mendapat passive income (mungkin )dan perjuangan nenek tadi, menggugah kita sebagai pemuda. sangat di sayangkan jika kita benar-benar rapuh sebelum tua.

saya jadi teringat ucapan seorang Hasan Al Bashri.

“Pemuda yang kucintai, adakalanya tanaman layu sebelum tua”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s