Sawah Kenangan

Sore ini, kebetulan saya pulang melewati daerah persawahan. karena agak capek,akhirnya saya memilih untuk berteduh. kebetulan di sana ada tempat duduk dari kayu yang sangat pas.

Angin sore memang sejuk. di situ,saya bersandar di pohon keres sambil menikmati pemandangan yang sebenarnya tidak asing tapi entah sengaja atau tidak sudah terlupakan. yah,mungkin ini adalah tempat yang paling pas untuk santai dan menjemput inspirasi.

Hmm,jadi teringat saat masa-masa kecil dulu. kebetulan simbah punya sawah dan ibu yang garap. waktu itu saya pernah ikut Ngarit bersama beliau. setelah dhuhur dan pulang setelah ashar. kalau musim hujan,airnya kadang meluap sampai sawah. pernah juga pernah di ajarin Ibu renang di kali he..he..dan alhamdulillah sampai saat ini masih belum bisa

Hal serupa juga saya temui ketika saat saya masih sekolah di kabupaten nganjuk. bisa di bilang,saya ini adalah pendatang yang di takuti para siswa yang ada di sana tapi tiga atau empat tahun yang lalu saya pernah berkunjung dan kebanyakan mereka sudah bekerja dan menikah. yah,memang tapi jangan apriori kalau orang desa itu kolot. justru dengan kondisi psikologi demikian, mereka jauh lebih dewasa daripada aak kuliahan yang suka nongkrong atau masih keluyuran. dengan kata lain, masa remaja mereka panjang(anak kuliahan) dan alhasil, mereka tidak siap ektika terjun di universitas kehidupan yang benar-benar nyata. hmm, mengenaskan. hmm, tetangga saya yang ada di nganjuk sana yang namanya Ika ,dia saja sudah punya anak. hmm, dan banyak lagi teman-teman yang sudah duluan. jadi iri juga tapi tak apalah,satu-dua tahun lagi insya’Allah

Saat sekolah di sana, setiap istirahat pasti mbah guru(sebutan orang sana) memberi jajan. entah semangka sepotong atau yang lain. kami kadang berebut he..he..masa kecil yang indah. lalu saya ikut teman-teman yang lari ke toko dan membeli. saat itu saya belum tahu apa itu membeli. waktu saya bilang.

“Hmm,tumbas niku”(mau beli yang itu) aku menunjuk sasaranku

“dhuite?(Uangnya?)” aku agak bingung dan ia menjelaskan kalau beli itu harus pakai uang. alhasil aku lari ke rumah simbah dan menangis minta uang. hiks..hiks… kadang kalau sore atau pagi jalan-jalan di sawah. di sana benar-benar natural. kalau saya tidak duduk di sini,mungkin itu kenangan itu perlahan hilang. hmm,sawah kenangan.

saat kembali ke sidoarjo, saya juga pernah berburu melon,garbis dan sejenisnya mulai ketimun,timun mas bahkan smangka. dengan cepat akami emngambil sem,angka dan kejar-kejaran dengan pemilik sawah(jangan di tiru) yah,saya baru sadar ka,lau tindakan itu benar-nbenar jahil. yang lebih mengasyikan lagi, prenah waktu itu kami berempat memetik kangkung. sambil bernyanyi. hmm,saya lupa lagu apa tapi seru dah.. tapi sayang, sawah itu sekarang jadi perumahan

Karena angin disini terlalu nyaman,saya akhiri saja sekian . afwan ya kalau membuang waktu hanya untuk baca tulisan ini hi..hi..

Ribuan daun yang menguning menyapaku

Butiran padi membuka lembaran hidup

Meski dirimu saat ini sudah tiada

Sawah kenangan akan terekam di hatiku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s