Semangat sang Senja

Beberapa minggu yang lalu saya hendak mampir di kota sidoarjo. Tapi ada beberapa pemandangan yang menarik .Saya sempat melihatnya beberapa saat. Mereka berdua duduk di bawah pohon di antara gerobak dan beberapa benda rongsokan.
Usia mereka tidaklah muda bisa di bilang sudah sangat senja namun semangat mereka sulit untuk di tafsirkan. Di bandingkan degnan pemuda yang hobinya cangkruk di warung dan merokok, kedua orang ini justru lebih semangat dan bergairah. Saya berpikir mungkin juga kedua orang itu adalah suami istri. Setelah saya amati agak lama,saya sudah menduga mereka adalah pasangan suami istri. Saya tidak bisa membayangkan, dengan kehidupan mereka yang sangat pas-pasan namun anehnya tetap masih terlihat ukiran senyum indah di wajah mereka.
Terlihat sang suami memijit kaki istrinya yang kelelahan. Saya hanya tersenyum karena keromantisan mereka. hmm, saya membayangkan kelak bagaimana dengan istri saya kelak.
Tapi,karena saya melewati mereka dengan melihat seperti memata-matai,mereka agak heran.yah,akhirnya saya saya memalingkan wajah 🙂 bukan maksud saya untuk memata-matai tapi saya hanya ingin membaca mereka.
“Luar biasa”gumam saya dalam hati. Saya tak menyangka jika mereka meski usia sudah senja namun bersemangat mencari kebutuhan untuk hidup. Apalagi mereka bekerja bersama-sama,mungkin jika di kalangan orang kaya, keributan sering terjadi antara suami dan istri. Entah belanjanya kurang atau yang lain ,tapi melihat mereka berdua, ternyata di sana ada juga yang namanya “kebahagiaan”. Saya yang masih muda ini kadang juga malu karena masih kalah semangat dengan mereka.
Di desa saya,ada sebuah masjid. Saya memang jarang sekali untuk sholat berjamaah di masjid tapi setelah melihat orang yang penglihatannya sudah rabun bahkan tidak bisa melihat tetapi ia masih semangat melangkahkan kaki menuju masjid dengan di tuntun teteanggganya. Andai saja saya tidak melihat orang itu,mungkin saya masih berpetualang bebas di alam mimpi dan bisa jadi saya jarang sekali untuk sholat jama’ah. Dalam hati saya, ”masa’ yang muda kalah”. Orang tua yang penglihatannya tidak seperti orang lain itu juga tetap aktif meski usianya hampir tujuh puluh tahun lebih. Subhanallah.
Kegigihan dalam bekerja juga bisa saya lihat ketika saya berada di perpustakaan daerah sidoarjo. Ketika jam istirahat,saya duduk santai sambil emmbaca buku di musholla tpai saya urung membaca karena ada nenek-nenek tua yang berjalan di area perpustakaan. Saya pikir dia itu pengemis tapi ternyata tidak, nenek itu menawarkan dagangannya yaitu kue kepada para pegawai kantor perpustakaan. Ia masih semangat menawarkan meski banyak yang menolak. “mas,kue mas..mas kue mas..” suara itu masih teringat jelas di memori saya.
Ah,kenapa saya yang muda menjadi lemah seperti ini? Saya teringat ucapan Hasan al Bashri jika adakalanya bunga itu layu sebelum tua.

Mereka-mereka adalah guru saya di madrasah ini. Yah,mereka adalah guru sejati.

Daud Al Insyirah (akhir januari 2011)

Iklan

7 thoughts on “Semangat sang Senja

  1. heum hampir saja saya menitik air mata, hal yang sama terjadi, dia pedagang koran di kampus, kakek tua yang semnagat menawarkan koran korannya, sangat tidak tega saya melihat yang tua renta ini, pagi berjualan koran siang berjualan tali sepatu..heum….menusuk naluriah kemanusiaan…inilah hidup,apakah keberadaan mereka merupakan bagian dari keseimbangan kehidupan??/tidak tentunya…karena terbukti islam pernah mengalami masa, dimana tak ada yang miskin, hingga tak tahu kemna uang zakat harus diberikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s