Bunga dan rumput

Taman itu tampak begitu indah. Ribuan bunga dengan berbagai macam warna menghiasi taman itu. Tidak hanya itu, taman yang berhias ribuan bunga itu juga merupakan tempat favorit di saat liburan. Banyak yang berkunjung kesana untuk sekedar duduk-duduk, piknik keluarga atau sekedar tiduran di padang rumput. Banyak juga hewan ternak yang berlibur disana. Menikmati rumput yang segar nan hijau.
Di antara ribuan bunga itu, ada satu bunga yang merasa prihatin dengan nasib si rumput. Ia terus memandangi si rumput sambil menggeleng-geleng. Ia merasa beruntung karena Allah menciptakannya sebagai bunga yang cantik. Tidak seperti rumput yang selalu di injak,dimakan bahkan hewan-hewan dan manusia tak berpendidikan buang air di sana. Ih, menjijikan.
“Hei rumput”
“Ya ada apa” si rumput menatap ke atas.
“Aku heran dengan mu kenapa kau masih saja betah hidup di sini, taman ini tak cocok untukmu. Alangkah baiknya jika kau pergi ke hutan yang sepi dan itu lebih aman bagimu.”
“oh ya? “
“Ya iyalah,apa kau tidak merasa? Setiap hari kau di nista. Aku kasihan dengan mu Put”
“Makasih ya atas perhatiannya tapi aku tidak mau pergi. Bagaimana aku bisa pergi ?aku sudah menancap disini”
“Hmm,betul juga”
“Tapi setidaknya aku bersyukur karena Allah menciptakan aku sebagai rumput.” jawab si rumput tenang.
“Hah, apa kau belum mengerti juga? Setiap hari banyak yang menginjakmu bahkan air seni menyirami dirimu dan hewan ternak memakan teman-temanmu?”
“Iya,aku tahu. Tapi sungguh, aku sangat beruntung menjadi rumput. Bagiku, menjadi rumput adalah kehormatan bagiku”
“Jiah, kamu jangan sok ya Put. Mari kita lihat kenyataan yang ada. Kau tidak di perhatikan siapapun di muka bumi ini”
“Hmm,ya tapi setidaknya, karena aku, daratan di bumi terlihat hijau. Meski kau cantik, daratan di planet bumi ini tidak menjadi ungu lavender seperti warnamu” si bunga hanya terdiam. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi sepertinya ia ingin membalas ucapan rumput yang menjengkelkan itu.
“Dasar,beraninya kau mengatakan itu padaku. Lihat dirimu siapa?kau hanya rumput yang tak di perhatikan” umpat si bunga.
“Terserah kau lah”
“Dasar” bisik si bunga dalam hati.
“Jika di perhatikan, Menjadi rumput memang memprihatinkan. Terkadang air seni selalu menyiramiku,di makan, bahkan di injak seolah-olah di anggap tak berguna. Namun aku bangga karena Allah memberikan amanah kepadaku. Amanah yang luar biasa bahkan tidak di berikan padamu. Karena aku di ciptakan Allah sebgai rumput, hewan ternak bisa makan dan hidup. Coba jika tidak ada aku, bagaimana nasib manusia? Mereka tak akan menemukan daging di pasar karena hewan ternak mati kelaparan. “ si rumput lalu menatap langit.
“Justru aku kasihan dengan bunga-bunga dunia yang cantik” lanjutnya.
“Maksudmu?” si bunga menatap si rumput serius.
“Kau tahu sendirikan, menjadi cantik itu adalah amanah. “
“Ah,kau ini. Kau terlalu berlebihan menafsirkan sesuatu”
“Oh ya? Berapa banyak bunga dunia yang kehilangan kehormatan karena mereka sombong dengan kecantikannya? Yah,kecantikan memang bisa di jadikan alat untuk kesombongan. Aku kasihan. Sungguh kasihan. Aku beruntung jadi rumput. Karena aku bisa membantu jutaan,milyaran bahkan triliunan hewan ternak bisa hidup dan bisa bermanfaat. Tanpa aku, stadion bung karno, sansiro di Italia tak akan indah. Sedangkan kau bunga, apakah kecantikamu hanya sebagai pajangan atau hiasan?”

Sidoarjo -Ramadhan 1432 H
Daud Al Insyirah

5 thoughts on “Bunga dan rumput

  1. Rumput dan bunga.. Hayo, baikan dulu ya *bermaaf-maafan*

    Baik rumput dan bunga punya peran, manfaat, dan kelebihan tersendiri 😉

    Keduanya akan baik jika memposisikan diri dengan tepat. Seperti rumput gajah yang rela dijadikan makanan ternak, bunga rosella juga rela kalau musti dipetiki dan dijadikan wedang kaya manfaat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s