Antara lilin dan kita

BAnyak persepsi mengenai lilin. hmm, kita bisa mengambil pelajaran dari lilin yang biasa kita beli di toko terdekat. yah, note ini terinspirasi saat lampu mati he..he..(beberapa minggu yang lalu). jika lampu padam,lilin bisa menjadi solusi selain terang,murah pula 🙂 . saat menyala kadang saya suka melihat meski agak bunar sih. sebenarnya bukan lihat cahaya tapi lihat adik yang main bayang-bayangan di lilin.
“Mas, ini monster serigala ,nah ini ayam monster dst” yah namanya anak kecil. pernah tuh saya baca artikel tentang lilin. intinya jangan menjadi lilin. yah, ini agak menyindir kami juga sih sebagai para pemuda yang masih belajar. apalagi bagi antum yang aktif di suatu organisasi atau yang punya binaan.

pernah suatu ketika,saya ikut syuro’ bersama kawan-kawan dan setelah di analisi,keluhannya juga tak jauh beda. “si ketua kena VMJ” kata seorang ukhti. masalah remaja di sma memang kebanyakan begitu. kalau nggak VMJ ya bosan atau yang lain. dari situlah mungkin kita di uji keitiqomahan kita.bahkan seorang akh yang mendapat tugas lain juga mengeluh. termasuk saya 😉 dan masih banyak masalah yang lain.

kembali lagi ke benda putih yang di buat adik saya main-,main saat lampu mati. hmm, ternyata lilin juga memiliki dampak negatif terutama buat kita-kita nih. lilin bisa membagi cahaya kepada lilin-lilin yang lain sementara membakar dirinya sendiri. tak hanyaitu yang lain juga terbakar tentunya. ah,mungkin saja kita sering memotivasi adik-adik atau orang lain sementara dirikita masih belum berbenah. kita memberi pencerahan namun membakar mereka dan diri kita. upgrading potensi tampaknyajuga perlu. tidak hanya itu,menjaga malam-malam kita juga perlu agar tidak sekedar”pengakuan”. tapi saya juga pernah baca kisah rabiah al adawiyah saat ia menjelang sakaratul maut. entahlah saya manusia,kalau salah ya di ingatkan lah tapi insya Allah saya mengingatnya 90 persen.

beliau(rabiah al adawiyah) memberikan tiga benda kepada hasan al bashri. sebuah lilin,jarum dan sehelai rambut. kalau tidak baca terusannya mungkin bingung. bahasa sufi seperti mereka membuat saya ndak nutut he..he.. ketiga benda itu memberi makna bahwa jadilah seprti lilin karena bisa menerangi tanpa membakar dirimu, jadilah jarum yang bekerja tanpa merasa memiliki dan jika kau lakukan semua itu maka akan ringan seperti sehelai rambut. Ehm,apapun paradigma mengenai lilin yang jelas kita bisa mengambil ibrah dari benda yang terlupakan ini(iling nya pas lampu mati)

jalan ini memang sangat indah tapi sangat terjal. mari kita ambil positifnya saja dari sebuah lilin. mari kita menerangi tanpa harus membakar dan mari kita bekerja tanpa harus memiliki. insya Allah akan ringan seperti sehelai rambut (ngutip rabiah al adawiyah) hmm,karena lampu sudah menyala, yah. sekian sajalah. lampu boleh padam tapi semangat tak boleh padam kan? 😉

sidoarJo 18 nop 2011

2 thoughts on “Antara lilin dan kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s