Tak Sekedar berkarya

jujur nih,saya itu bukan orang yang suka baca atau nulis sejak kandungan. šŸ™‚ atau suka baca sejak kecil. karena dari kecil, buku sulit untuk ditemukan. karena bagi keluarga kami, beras itu lebih penting daripada buku. tapi saya suka sekali dengan buku. maklum,orang kecil seperti saya sangat merasa wah kalau melihat buku. sejak STM,barulah memulai mengoleksi buku-buku. appun itu. novel,non fiksi,faksi,kumpulan cerpen dan hadiah dari teman-teman.ada juga hadiah dari sebuah perlombaan.

memulai menulis itu berlangsung ketika saya di SMP. karena saya termasuk siswa yang kurang beruntung. saya sering melampiaskan emosi melalui pelajaran bahasa indonesia. kalau teman-teman tak suka dengan pelajaran mengarang, saya malah lebih suka. karena dari situ saya bisa meluapkan segalanya.

perjalanan menulis juga bermacam-macam. sengaja postingan ini dibuat karena pagi tadi ada shering seperti biasanya dengan temen-temen FLP sidoarjo. ada yang menarik disini mengenai perjalanan kepenulisan. seperti mas cucuk. yang karyanya sudah tersebar di indonesia. yah,anggota kita memang dahsyat. belum jadi anggota saja sudah punya karya. šŸ™‚

Sebelumnya,mas cucuk kuliah di jogja. ia bercerita banyak tentang proses penerbitan yang ribet. bayangkan saja,hanya menanti itu saja butuh waktu setahun. subhanallah. ia mengaku tidak begitu suka dengan sastra. tapi karena kondisi saat kuliah itu mulai menemui titik jenuh, ia pun meluangkan waktu untuk menulis dan akhirnya jadi. katanya “menulis novel itu gampang” hmm yah memang begitulah adanya. yang terpenting adalah jangan memvonis diri kita. bisa atau tidak? atu bagus atau tidak? tak perlu heranlah jika ada mahasiswa sastra malah kesulitan untuk berkarya he..he.. tapi tidak semua kok.;-)

lain halnya dengan mas zein el arham yang kebetulan duduk disamping saya. yah,kebetuan ia juga memiliki karya. dan menerbitkan buku keduanya tentang kristologi di saya juga ;-). ia mengaku menulis itu memang harus dipaksa. kalau tidak dipaksa kita tidak akn menghasilkan tulisan. yang lebih mencengangkan, ia saat itu belum punya pc,leptop tapi menulis di hape nya. subhanallah. jadi fasilitas bukanlah segalanya. katanya “terkadang cobaan indah itu melalaikan” dan yang terpenting dari diri kita sendiri. bisa memaksimalkan kesempatan yang ada.

Membicarakan karya, ini sebenarnya materi minggu lalu.
memang,setiap orang itu ingin menerbitkan suatu karya. karena dengan itu mereka bisa lebih semangat. entah apapun itu entah penerbit indie,penerbit major dan lain-lain. suatu karya memang tidak dilihat dari bagaiman terbitnya tapi dari usahanya. apapun yang kita hasilkan, ya itu karya kita. harus bangga lah dengan itu semua kalaupun tidak bagus. toh mendingan sudah mencoba. satu aksi nyata memang lebih sip daripada seribu teori.

mungkin kita pernah membaca karya ulama terdahulu. yang sampai saat ini ada di tengah-tengah kita. karya yang abadi bukan? meski penulis sudah tak ada di dunia ini, tapi mereka berkontribusi untuk umat. mereka menulis bukan karena dibayar atau royalty, tapi karena untuk kepentingan umat. mungki ini yangperlu kita luruskan tujuannya. okelah materi it upenting tapi jangan dijadikan suatu tujuan melainkan sebagai sarana.

fakta membuktikan, jarang sekali karya ulama seperti syaikh ib.taimiyah,ib-jauzi ,syafii kita temui buku mereka dengan harga murah. sungguh,Allah benar-benar menjaga karya-karya mereka.baik dari harga atau isi yagn terkandung. dan mungkin ada juga karya ulama yang memang mudah untuk mendapatkannya tapi saat saya survey dan ingin membeli buku ibn-taimiyah versi bahasa arab saja masih mahal. sekitar 85 ribu.

ini sangat ironis sekali melhat banyak karya anak bangsa yang agak bermasalah. mereka memang cepat tapi yang disuguhkan macam-macam. pacaran,perselingkuhan bahkan yang merusak pemikiran. dan hasilnya, karya mereka di obral murah-murah dibazar. ini bukan melihat materinya tapi mengenai nilai suatu karya. dijaga Allah atau tidak. karya ulama pun itu dijaga kualitasnya oleh Allah.

yang perlu diperhatikan dalam berkarya adalah kejujuran. menulis sesuai dengan apa yang kita mampu. imam bukhori sepbenarnya hafal lebih banyak daripada buku yang ia tulis. tpai kenapa tidak ia tulis? karena yang beliau tulis adalah yang ia amalkan. subhanallah. begitu hati-hatinya ulama dahulu.

jangan bicara syariah jika kita belum menjalankannya. jangan menasehati sesuatu jika kita juga belum melakukannya. misal kita meyurh adik kita “kalau minum jangan berdiri” tapikita sendiri malah berdiri. boleh dibilang, karya kita adalah cermin kita. dari sebuah karya, insya allah akan ketahuan sejauh mana kemampuan penulisnya. dan yang terpenting lagi, agar tak sekedar berkarya, mari kita niatkan untuk ibadah.

*obrolan ringan

Iklan

One thought on “Tak Sekedar berkarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s