Catatan mudik

rumah mbah

rumah mbah

“Harus ikut mas. Dinda sekarang cuantik..” semangat sekali kalau bicara. membuat orang penasaran saja. terakhir kali saya melihat Dinda ketika berusia dua tahunan. masih belum lancar bicarnya. hmm, sudah lama sekali. lima tahun tidak pulang kampung. Oh,iya. Dinda adalah saudara saya. tepatnya anak dari adik ibu saya(Bibi) kata ibu dan adik kedua saya, sekarang sudah besar. tepatnya kelas 2 SD. sseumuran dengan adik saya yang paling kecil. katanya sih,wajah Dinda ini mirip orang londo. wajah putih rambut sedikit pirang. mungkin agak aneh di desa tersebut.

Dihari pertama. saya kurang terbiasa. setahun ini saja. saya naik mobil tidak sampai lima kali. terakhir ya naik mobilnya pak HQ ikadi yang ngantar kita tampil nasyid di gedek mojokerto. nah untuk mudik kali ini. saya benar-benar muntah karena 4 jam berdiri. yah begitulah. karena nunggu bisnya tidak di terminal.

dinda dan firman jalan-jalan di sawah

dinda dan firman jalan-jalan di sawah

saat sampai, ibu mampir di warung tak jauh dari rumah mbah. beli pecel khas nganjuk. hmm..harganya juga murah. masih seprti dulu. Rp.500 perak.  murah kan? dan es rujak. harganya juga sama Rp.500 . yang menyedihkan,pintu rumah terkunci karena para penghuni pergi untuk silaturahim. hmm, saya nunggu di depan rumah dan lihat-lihat kampung. tak ada yang berbeda sejak saya masih sekolah disan (sat TK) teman-teman saya yang disana juga tak terlihat. mungkin hanya tetangga saya yang namanya ika. sudah nikah dan punya anak tiga. lulus SMA tahun 2007. yah,harusnya say memang lulusan tahun segitu. bukan 2009  menimbang tahun lahir dan wajah boros saya he..he.. maklum saat TK saya ngulang lagi di sidoarjo. jadi wajar kalau telat dengan anak-anak di desa ini.

di dusun mojorejo ini taraf ekonominya bisa dibilang mengenaskan. sampai ada stiker dari gubernur. “Bantuan bidang peternakan keluarga sangat miskin.” ini terbukti di setiap rumah didusun di beri satu sapi oleh pak dhe karwo. itu tuh gubernur jatim kita.

kondisi dalam rumah. bahkan susunan batu bata tidak gunakan semes tapi tanah liat

kondisi dalam rumah. bahkan susunan batu bata tidak gunakan semen tapi tanah liat

di hari pertama ini saya juga ketemu saudara-saudara dari kediri yang mampir di nganjuk. ada mbak Pur,mas To dan dek Rom. semuanya sudah nikah dan punya anak. waduh,saya yang ketinggalan nih. dek Rom saja sudah tuinggi. besar. terlihat tua. lebih tua dari saya tapi umurnya sih lebih tua saya. ada juga mbak Pur. dulu dia cantik tapi sekarang gendut. kata ibu sih  karena efek KB. ada juga mas To. tetap kurus.

Beberapa jam kemudian,barulah Dinda di jemput dari kertosono. sat itu ia dirumah mbahnya. tidaksalah. wajahnya sama seperti yang dibilang. mirip orang luar. sampai mbak Pur komentar. “oalh Din,awakmu mirip sopo. cek ayu ne.”

dihari pertama,sempat berkunjugn ke makam kakek dan nenek dan mampir ke pak dhe palil(anak pertama dari duabelas bersaudara) boleh di bilang kakak pertam ibu saya. tapi juauh. selisishnya tiga puluh tahun. cucunya seumuran dengan saya. sat ini kuliah di PTN malang. kemudian di budhe Yem. kalau budhe ini adalah satu-satunya keluarga yang beda agama. mungkin karena ikut suaminya. saat silaturahim, suaminya sangat semangat sekali bicaranya. maklum kata ibu , beliau adalah parormal. bisa menyembuhkan apa saja. hmm tapi saya lebih suka menyebutnya misionaris he..he..dilihat dari gay bicarnya yang cukup meyakinkan. kemudian mampir di mbok dhe yang suaminya pengrajin kurungan burung. hmm…melelahkan juga sih. dan saat malam. dinginnya luar biasa. Brr……

dinda yang sudah kelas 2 sd

dinda yang sudah kelas 2 sd

di hari kedua…

saya dan adik saya yang paling kecil. “firman” jalan-jalan muterin sawah. pemandangnnya indah. anginnya juga nggebes. tanaman jagung dan kacang ikut menghiasi. kalu nengok keselatan ada gunung. pantas saja disini gunung. meski bukan daerah gunung. daerah sini memang dekat.

saat kami berjalan tentulah anyak orang yang melihat. mungkin karena kami asing bagi mereka. oh,iya di hari kedua. kami main PS. adik saya yang paling kecil ini. selalu menjdwal. main ps di mbah. artinya jadwal untuk main playstation hanya satu kali dalam setahun.

firman dan dinda

firman dan dinda

Menjelang maghrib, suara anak kecil menyerukan adzan. saya datang saja di mushola yang ad di depan ruamh. di samping mushola ada sekolah. disanalah sayadan teman-teman belajr disana. orang yang bejasa adalah “mbah guru” begitulah ia dipanggil. sekarang beliau sudah tidak ada.
Nah,anehnya saat masuk ke mushola. salah satu dari wanita yang usianya tujuh puluhan menyuruh iqamat.

“ndng gih…di komati,” lho yang imam siapa? saya pikir ada imamnya eh ternata tak ad. karena saya yang paling baligh di antara laki-laki yang ada. sayapun jadi imam shalat maghrib. usaishalat, seperti biasanya selalu bersalaman. salah satu dari nenek tersebut. membawa cucu perempuannya. usianya sekitar empat tahunan.

dinda

dinda

“Salim sama mas taufik dari suroboyo. ndang gih..” ternyata nenek ii masih ingat say.a tentu saja beliau kan guru saya dulu. apalagi pernah sekolah disini. hmm, saya juga menegok ke arh pintu yang terbuka. pintu yang menghubungkan mushola dan sekolah. wah. kangen juga. sat jam istiraht dulu,selalu ad makanan kecil yang di berika kepada kami. saya sekolah disana karena ad konflik di sidoarjo. hmm waktu itu kami tinggal di kontrakan. karena pemiliknya stres karena di fitnah, kami pun di usir. yah di mana lagi kita tinggal. dimana lagi kalau bukan di nganjuk.

di hari ketiga (terakhir)

Dihari terakhir saya ,firman,dinda dan ibu jalan-jalan untuk silaturahim. jalan-jalan juga di pinggir kali. hmm,yang lebih mengesankan. saat ibu berkunjung kesaudaranya kakek. umurnya delapan puluh tahunan lebih. saat ketemu ibu saya, dia langsung memeluk menciumi. ibu  hanya pasrah dan menahan tangis. semua di ciumin nenek terebut. dinda ,firman bahkan termasuk saya. entah kenap sayajuga merasa haru. maklum saja, orang tersebut kangen berat sama ibu saya. saat ibu saya masi kecil.seringkali dititipkan disana.

“Ini Mi yang ayu iku tho.” katanya

“Bien la’an” kata ibu saya sambil tersnyum. katanya sih ibu saya cantik. sengaja saya cari foto di rumah mbah. dan menemukan foto saat masih muda sekitar 16 tahun. memakai kacamata hitam sambil berbopes ala 80 an. hmm tapi sayang

jalan-jalan

jalan-jalan

kecakepan ibu ini tidak menurun ke anak-anaknya he..he..mungkin menurun ke adik saya yang nomor satu . ada orang bilang mirip orang india-arab. kalau saya mah. banyak yang ngira dari benua afrika-negro wah..wah…parah nih. 😀

dihari terakhir ini saya juga bertemu kakaknya dinda. namanya binti khasanah. dari perawakannya terlihat seahtera. kemudian di hari terakhir kami juga nyambangi beberapa pak lek  dan bu lek.  dan alhamdulillah sudah di kunjungi.

sat pulang, ternyat tidak ad mobil LEN. untunglah ad becak motor. meski jauh dari terminal. apa bleh buat. kamipun naik. butuh waktu sejam untuk sampai terminal. karena penggeraknya menggunakan diesel, lajunya juga tidak begitu banter. tapi kami menikmatinya. hamparan sawah selalu menadi pemandangn utama. saat melalui kota, ibu saya terpesona. yah maklum seumur hidup baru kali ini melihat nganjuk yang kota. he..he… akhir cerita. pulang jam 15.30 sampai dirumah jam 21.30 .

2 thoughts on “Catatan mudik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s